![]()
Musim hujan tiba.
Aku, kamu, dan hujan. Kita berjalan bersisian, menggenggam jemari seakan setiap ruasnya adalah janji. Beberapa detik tanpa kamu sadari, aku menikmati senyum kamu. Hangat walaupun kala hujan. Beberapa detik, aku tahu, kamu pun menikmati senyum ku. Ya, aku, kamu adalah pecinta rintik hujan. Kita berjalan berjingkat menghindari air-air yang menggenang di bumi. Lain waktu kita menghentak keras air-air itu untuk mengundang canda. Sesederhana itu aku merasa bahagia…
Aku, kamu, secangkir kopi, dan secangkir teh. Kita duduk bersisian, sibuk merapal kalimat demi kalimat dalam buku kesukaan kita masing-masing. Aku dengan novel cintaku, kamu dengan sebuah buku penuh angka. Aku sibuk menyesap secangkir penuh creme caramel dan kamu sibuk menyesap secangkir penuh american coffee. Berjam-jam berlalu, aku, kamu, tidak mampu melebur lebih dalam lagi dengan buku-buku itu.. Lalu kamu akan bertanya, “Adakah tokoh pria dalam novel itu yang membuatmu bahagia?”. Lalu aku pun akan bertanya, “Adakah angka di dalam buku itu yang membuatmu cemas?” Ya, kita memang tidak pernah berpisah sepenuhnya. Dalam larutan buku-buku, secangkir teh, dan secangkir kopi itu, aku dan kamu tetap bersisian. Sesederhana itu aku merasa bahagia…
Aku, kamu, dan sepotong coklat. Kita merebahkan diri bersisian di atas rumput basah itu. Ya, sekali seminggu kamu selalu membawakan sepotong coklat kesukaanku. Kamu akan menceritakan mimpi-mimpimu. Aku mendengarkan dengan seksama. Keinginanmu untuk menaiki puncak Eiffel dengan pendamping hidupmu. Aku tertawa. Kekanakan untuk ukuran pria sepertinya, pikirku. Lalu aku akan tertidur sambil menggenggam coklat pemberianmu. Sesederhana itu aku merasa bahagia…
Sesederhana itu aku merasa bahagia, saat pertama kali kita bertemu, kamu menanyakan namaku dan bertanya apakah kamu boleh berteman denganku.
Sesederhana itu aku merasa bahagia, saat pertama kali kamu meminjam buku ku.
Sesederhana itu aku merasa bahagia, saat aku merelakan kamu sepenuhnya untuk mencintainya.
Sesederhana itu aku merasa bahagia, saat kamu tidak menghiraukan teleponku karena pria itu.
Setelah sekian tahun, kudapati surat kumal yang kamu simpan dalam kotak perak pemberianmu di tahun kedua kita berteman. Tertulis,
“Sesederhana rintik hujan membasahi pipimu. Sesederhana kamu menyesap teh kesukaanmu. Sesederhana kamu mengotori pipimu dengan coklat. Aku selalu berpikir, seandainya sesederhana itu aku dapat membahagiakan kamu di sepanjang hidupmu. Seandainya kamu tahu betapa sedihnya aku saat kamu katakan kalau kamu mencintai pria itu. Seandainya kamu tahu betapa sedihnya aku saat kamu tersenyum melihatku dengan kekasihku. Seandainya kamu tahu, ratusan kali aku mengatakan betapa aku mencintai kamu setiap kali kamu tertidur dengan coklat di genggamanmu. Seandainya aku memiliki cara untuk membuatmu bahagia..”
Aku menitikkan air mata, berkata dalam hati, “Seandainya aku tidak menghiraukan permintaanmu untuk tidak membuka kotak ini.. Sesederhana itu aku akan bahagia..”
